SI KANCIL DAN USAGI: Nilai Edukasi dalam Dongeng dari Dua Negara
DOI:
https://doi.org/10.25077/we.v10.i2.172Kata Kunci:
tradisi, dongeng, cerdik, fungsi, nilai luhurAbstrak
Tradisi menceritakan dongeng adalah sebuah awal pengenalan sastra kepada anak. Anak Indonesia dan anak Jepang tentunya pernah diperkenalkan kepada dongeng dengan tokoh cerita fauna yang memiliki ukuran tubuh kecil, yaitu Kancil dan Usagi (Kelinci). Secara pragmatis, dongeng anak sebagai folklor memenuhi prinsip dulce et utile, menghibur dan bermanfaat. Cerita anak diharapkan dapat memperluas cakrawala, memperdalam pengetahuan, dan mengembangkan wawasan sosial. Artikel ini mengungkap nilai luhur yang terdapat dalam dua dongeng dari dua negara, Indonesia dan Jepang. Dongeng dengan cerita hampir sama ini berjudul Si Kancil: Menipu Para Buaya (Indonesia) dan Inaba no Shiro Usagi (Jepang). Metode yang digunakan untuk adalah content analysis dan fungsi folklor. Hasil penelitian menunjukkan tokoh Usagi dan Kancil sama-sama memiliki akal cerdik yang digunakan untuk mencapai keinginannya meskipun dengan cara yang tidak baik. Berbeda dengan tokoh Kancil yang merupakan fauna biasa, tokoh Usagi memiliki magical power, kata-kata yang diucapkannya menjadi kenyataan di akhir cerita. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Jepang tampak lebih kental daripada tradisi Indonesia. Jika dilihat dari fungsi folklor sebagai alat pendidikan anak, kedua dongeng sama-sama mengandung nilai edukasi. Nilai dalam dongeng Si Kancil dan Inaba no Shiro Usagi ada empat, yaitu edukasi tentang fauna dan habitatnya, alam dan vegetasi dapat digunakan untuk bertahan hidup, kesadaran demi keselamatan, dan edukasi tentang tradisi masyarakat pemilik cerita. Dongeng masing-masing negara memiliki pesan eksplisit dan implisit yang setara, tidak ada yang melebihi satu sama lain.
Referensi
Alamendah. 2015. “Pelanduk jawa (tragulus javanicus), kancil asli pulau jawa.†[ [https://alamendah.org/2015/02/06/pelanduk-jawa-tragulus-javanicus-kancil-asli-pulau-jawa/ (31102021)]
Amanat, Tri. 2020. “Licik atau cerdik? Resepsi terhadap si kancil di dunia maya.†Jurnal Aksara Vol. 32, No. 2, Desember 2020: 209
Anekkusu (Editor). 2006. “Inaba no shiro usagi.†Japan: Mizuoka Shoten.
Chairunnisa, Ninis. 2021. “Pulau okunishima, pulau misterius surga kelinci di Jepang.†[https://travel.tempo.co/read/1524307/pulau...(31102021)]
Endraswara, Suardi. 2009. “Metodologi penelitian folklor.†Yogyakarta: Media Pressindo.
Rahimsyah AR, MB. 2011. “Kumpulan dongeng si kancil, si kecil cerdik dan menggelitik.†Jakarta: Barus.
Rinaldi, Arnila Ladiga. Immerry, Tienn. Dahlan, Femmy. 2020. “Usagi dan hana: kearifan lokal fauna dan flora.†Skripsi. Padang: Universitas Bung Hatta.
Short, Kevin. 2011. “Japanese cattails (gama no nakama).†[https://japanesemythology.files.wordpress.com/2011/10/cattail-folklore.jpg (30012020)]
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Penulis yang menerbitkan jurnal ini menyetujui persyaratan berikut:
- Penulis memiliki hak cipta dan memberikan hak jurnal untuk publikasi pertama dengan karya yang secara simultan dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution License yang memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan pengakuan kepengarangan karya dan publikasi awal dalam jurnal ini.
- Penulis dapat membuat perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif versi jurnal yang diterbitkan dari karya tersebut (misalnya, mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan atas publikasi awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting pekerjaan mereka secara online (misalnya, dalam repositori institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses pengajuan, karena dapat menyebabkan pertukaran yang produktif, serta kutipan yang lebih awal dan lebih besar dari karya yang diterbitkan (Lihat The Effect of Open Access).